Jejak Plastik Tak Terlihat di Piring Kita

, , No Comments
Jejak Plastik Tak Terlihat di Piring Kita

Pernahkah kita membayangkan ada sesuatu yang sekecil debu, menyelinap diam-diam ke dalam tubuh manusia, bahkan sampai ke rahim seorang ibu? Ini kedengarannya seperti cerita dari film fiksi ilmiah, ya. Tapi, temuan ilmiah terbaru dari Makassar, Sulawesi Selatan, membuka mata kita pada kenyataan yang cukup mencengangkan. Saat para peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin meneliti para ibu hamil, mereka menemukan serpihan plastik mikroskopis—ukurannya kurang dari lima milimeter—bersembunyi di dalam sampel darah dan plasenta.

Potongan-potongan plastik mungil ini rupanya tidak begitu saja lenyap dari bumi. Mereka gigih bertahan di lingkungan kita, menumpang lewat udara, tanah, dan air. Saat kita berkumpul di meja makan bersama keluarga, menikmati hidangan hangat dan rutinitas harian kita, jarang sekali terlintas di pikiran bahwa piring dan cangkir kita mungkin sedang membawa 'tamu' tak diundang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partikel ini menyusup ke tubuh kita melalui makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari untuk merawat tubuh. Bahkan bahan-bahan dapur kesayangan kita, seperti garam tradisional dari Jeneponto atau hasil tangkapan segar dari perairan Makassar, ternyata menyimpan jejak partikel membandel ini.

Bukan hanya makanan laut atau garam lokal saja, lho. Hasil riset juga menunjuk pada bahan-bahan dapur sehari-hari yang akrab dengan kita, mulai dari beras mentah maupun matang, air minum dalam kemasan, hingga air keran yang mengalir di rumah. Bayangkan, bahkan secangkir teh pagi yang menenangkan, yang diseduh menggunakan kantong teh plastik, bisa melepaskan miliaran partikel mikro dan nanoplastik langsung ke dalam cangkir hangat kita. Kita sering mengira plasenta adalah perisai pelindung yang tangguh, berdiri menjaga agar zat-zat berbahaya tidak menyentuh si kecil yang sedang tumbuh. Namun, bukti ilmiah membuktikan bahwa serpihan membandel ini rupanya mampu menerobos benteng pelindung itu, dan berpotensi memicu kerusakan sel, peradangan, serta gangguan hormon.

Ketika mikroplastik berhasil menyeberang masuk ke dalam plasenta, efek dominonya bisa cukup berat, mulai dari pertumbuhan janin yang terhambat hingga risiko kelahiran prematur yang lebih tinggi. Bagi para ibu, paparan jangka panjang juga dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan reproduksi dengan cara-cara yang masih terus dipelajari oleh para peneliti kita. Mengetahui semua fakta ini tentu saja bisa membuat dada terasa sesak dan sedikit overwhelming, apalagi partikel tak terlihat ini seolah bersembunyi di hampir segala hal di dekat kita, dari gelas kopi kertas sekali pakai hingga kemasan makanan berbahan plastik.

Meski demikian, bukan berarti kita tidak berdaya di dapur sendiri, ya. Ada langkah-langkah kecil yang hangat dan praktis yang bisa kita ambil setiap hari untuk mengurangi paparan ini. Mencuci beras sebelum dimasak ternyata bisa membantu melunturkan sebagian besar partikel yang menempel, begitu juga dengan membilas buah segar, sayuran, daging, dan ikan secara saksama. Kapan pun kita ingin menikmati minuman hangat, kita bisa beralih dari wadah plastik ke cangkir keramik yang kokoh, serta memilih teh daun lepas ketimbang kantong teh plastik untuk melindungi secangkir kehangatan kita. Sambil kita menanti perubahan kebijakan yang lebih besar untuk mengatasi sampah plastik dari hulunya, mengambil langkah kecil yang penuh kesadaran saat menyiapkan makanan di dapur adalah permulaan yang menenangkan.

sumber: theconversation.com

versi lengkap: rika.wordpress.com

Foto: The Conversation ID

0 comments: