
Kain putih berkibar lamat-lamat di udara Halmahera, membawa sisa aroma rempah dan kisah masa lalu yang menyatu dengan embusan angin laut Maluku Utara. Di meja makan kita, makanan sering kali kita pandang sekadar sebagai sajian yang mengenyangkan perut. Tapi tahukah kita, di Desa Sagea, budaya justru menjelma menjadi perisai paling kokoh yang menjaga sumber-sumber kehidupan itu sendiri? Komunitas adat Fagogoru di sana telah lama merawat sebuah tradisi sakral bernama Cokaiba atau Cogoipa, yang biasanya dipentaskan meriah untuk menyambut Maulid Nabi dengan penuh suka cita yang membuncah.
Dalam pandangan hidup mereka, manusia dan alam bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan bagian dari satu denyut nadi yang saling menghidupkan. Bayangkan empat sosok penari berpakaian serba putih dengan topeng mencolok, masing-masing membawa pesan tentang elemen dasar bumi: api lewat Cokaiba Yai, embusan angin dari Cokaiba Gofatau, kesegaran air yang dibawa Cokaiba Iripala, dan kokohnya tanah oleh Cokaiba Nok. Pementasan ini adalah pengingat visual yang kuat, sebuah penghormatan pada hutan lebat dan aliran air jernih yang memberi kita setiap tetes kesegaran dan setiap nutrisi yang membangun tubuh kita.
Namun, di balik riuhnya tradisi yang penuh warna itu, ada kenyataan pahit yang kini mengetuk pintu rumah warga Sagea. Kehadiran enam perusahaan tambang yang mengeruk nikel, batu bara, bauksit, dan pasir besi telah mengubah tanah subur itu menjadi medan kerukan raksasa. Bukannya membawa kesejahteraan bagi penduduk lokal, yang tersisa justru ancaman kerusakan lingkungan yang nyata di Kawasan Karst Sagea, Goa Bokimoruru, dan Telaga Lagaelol. Tempat-tempat ini bukan sekadar pemandangan indah, melainkan dapur air bersih tempat mereka menggantungkan hidup setiap hari.
Lantas, bagaimana sebuah komunitas bersuara ketika tanah leluhur mereka perlahan dirampas oleh mesin-mesin industri? Gerakan pemuda Save Sagea punya cara yang menyentuh hati sekaligus berani, yaitu dengan mengubah figur tradisional Cokaiba menjadi Pasukan Cokaiba, garda terdepan perlawanan budaya melawan tambang nikel. Ketika empat belas warga dari Desa Sagea dan Kiya harus berurusan dengan hukum hanya karena membela ruang hidup mereka, kita diajak merenungkan beban berat yang dipikul oleh mereka yang tinggal di atas tanah yang diincar dunia untuk transisi energi hijau.
Angka-angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas memang tampak mengkilap, tetapi kenyataannya kemiskinan justru merangkak naik seiring pencemaran yang meracuni hasil tangkapan nelayan dan ladang para petani. Padahal, ada jalan lain yang lebih ramah lingkungan seperti pertanian berkelanjutan dan perikanan yang bisa menghidupi tanpa harus menguras kekayaan alam secara paksa. Mari kita terus mendengarkan suara-suara tangguh dari Halmahera ini, karena menjaga kelestarian bumi pada akhirnya adalah urusan kita semua yang duduk di bawah langit yang sama.
sumber: theconversation.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: The Conversation ID
0 comments:
Post a Comment