
Coba bayangkan, berapa banyak bawang yang lewat di dapur kita setiap minggunya? Entah itu saat kita mengiris bawang putih untuk tumisan cepat di hari kerja, atau memotong bawang bombay kuning yang harum untuk sup akhir pekan yang hangat, lapisan kulit luarnya yang kering dan seperti kertas biasanya langsung berakhir begitu saja di tempat sampah tanpa kita pikir dua kali. Padahal, lapisan-lapisan yang bergemerisik tipis itu menyimpan rahasia kecil yang luar biasa untuk pot-pot tanaman dan kebun bunga kita. Tanpa kita sadari, sisa dapur sehari-hari ini bisa kita sulap menjadi pupuk cair bergizi yang nyaris tanpa biaya, yang dijamin bakal disukai oleh tanaman hijau kesayangan kita di rumah.
Selama ini kita mungkin sudah terbiasa mengumpulkan sisa ampas kopi atau membuang kulit pisang dan sisa apel ke dalam tumpukan kompos, nah, kulit bawang ini bisa jadi tambahan baru yang menyegarkan untuk perangkat berkebun mandiri kita. Pupuk kimia di toko kadang terasa membingungkan takarannya, dan kalau kita terlalu banyak memakainya, akibatnya justru bisa merusak akar dan membuat pertumbuhan tanaman malah tersendat. Padahal, produk-produk komersial tersebut sering kali menggunakan senyawa bermanfaat yang sama persis dengan yang sudah disediakan alam di dalam bawang biasa, termasuk kandungan magnesium, potasium, kalsium, dan fosfor yang sangat dibutuhkan tanaman.
Bahkan, ada satu temuan menarik dari studi di International Journal of Scientific Development and Research yang menyoroti bahwa teh sederhana dari seduhan kulit bawang terbukti membantu merangsang pertumbuhan tanaman serta mendorong pembungkus bunga yang cantik. Hebatnya lagi, ramuan alami ini juga bekerja melindungi tanaman dengan mencegah atau mengurangi risiko penyakit bakteri serta patogen yang kerap mengganggu. Membuat tonik tanaman yang lembut ini ternyata sangat mudah dan hanya butuh waktu beberapa menit saja dari kesibukan kita di dapur. Kita bisa memakai warna kulit apa saja yang sedang kita punya, baik itu warna merah tua yang pekat, putih bersih, maupun kuning cerah.
Caranya pun amat bersahaja, cukup ambil segenggam penuh kulit bawang yang seperti kertas itu, lalu campurkan dengan sekitar empat setengah cangkir air. Setelah itu, simpan wadahnya di tempat yang sejuk dan gelap, seperti di dalam lemari dapur yang nyaman selama dua puluh empat hingga empat puluh jam. Selama proses berendam ini, airnya akan perlahan-lahan berubah warna menjadi lembut tergantung dari jenis bawang yang kita pakai, menandakan bahwa ramuan ajaib ini sudah siap beraksi di kebun. Begitu waktu rendaman selesai, kita tinggal menyaring potongan kulit bawangnya, meninggalkan cairan pekat yang kaya nutrisi di dalam wadah.
Sisa kulit yang sudah disaring tadi tentu saja bisa kita buang ke tempat kompos, atau bahkan langsung disebar sebagai pupuk alami untuk tanaman tomat yang sedang tumbuh subur. Sebelum cairan buatan rumah yang pekat ini kita siramkan ke tanaman di kebun, kita perlu mencairkannya dulu dengan mencampur sekitar satu cangkir cairan pekat tersebut dengan empat setengah cangkir air bersih. Campuran yang seimbang ini sangat aman digunakan seminggu sekali untuk sayuran maupun bunga, sementara sisa cairan pekatnya masih bisa disimpan dengan baik selama kira-kira sebulan jika wadahnya tertutup rapat.
Betapa senangnya ya, ketika kita menemukan cara-cara kecil yang ramah di kantong sekaligus bisa memberikan dorongan alami untuk kebun di rumah. Jadi, lain kali saat kita sibuk menyiapkan bahan makan malam, yuk ingat-ingat untuk menyelamatkan kulit tipis bawang tersebut dan mulai meracik secangkir teh tanaman buatan kita sendiri. Ngomong-ngomong, adakah di antara kita yang pernah mencoba membuat pupuk tanaman sendiri di rumah, dan bagaimana sambutan si hijau di kebun terhadap kejutan nutrisi tersebut? Mari kita seduh secangkir teh untuk diri kita sendiri, melangkah keluar menikmati hangatnya matahari sore di kebun, dan berikan sedikit cinta ekstra untuk tanaman kita minggu ini.
sumber: tastingtable.com
versi lengkap: rika.wordpress.com
Foto: Tasting Table
0 comments:
Post a Comment